KONJUNGSI SEBAGAI PERTALIAN MAKNA ANTARKALIMAT DALAM RUBRIK FUN SCIENCE REPUBLIKA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

SAUZAN AZ ZAHRA, . (2017) KONJUNGSI SEBAGAI PERTALIAN MAKNA ANTARKALIMAT DALAM RUBRIK FUN SCIENCE REPUBLIKA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA. Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

[img] Text
SAUZAN AZ ZAHRA 2115132939.pdf

Download (6MB)

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan penggunaan konjungsi sebagai pertalian makna antarkalimat pada rubrik Fun Science Republika edisi Januari– April 2017. Fokus penelitian ini adalah konjungsi sebagai pertalian makna antarkalimat dalam membentuk keutuhan wacana yang meliputi hubungan pertalian penjumlahan, perturutan, perlawanan, lebih, sebab akibat, waktu, syarat, cara, kegunaan, dan penjelasan. Metode penelitian yang digunakan, yakni deskriptifkualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konjungsi sebagai pertalian makna antarkalimat pada rubrik Fun Science Republika edisi Januari–April 2017 dapat mempertahankan keutuhan wacananya, yakni kohesi dan koherensi. Kohesif dan koherensnya rubrik tersebut ditentukan oleh salah satu penanda hubungan, yaitu konjungsi yang digunakan sebagai penanda hubungan dan pertalian makna informasi yang dinyatakan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Informasiinformasi tersebut bertalian satu sama lain dan mendukung adanya keserasian terhadap topik pada masing-masing ujaran. Penggunaan konjungsi sebagai pertalian makna antarkalimat diperoleh sejumlah 58 penanda dari 58 pasang ujaran. Penggunaan tersebut menandai pertalian makna pada sepuluh kategori, yakni pertalian makna penjumlahan diperoleh sebanyak 7% atau 4 penanda, perturutan 22% atau 13 penanda, perlawanan 21% atau 12 penanda, lebih 3% atau 2 penanda, sebab akibat 9% atau 5 penanda, waktu 17% atau 6 penanda, syarat 3% atau 2 penanda, cara 3% atau 5 penanda, kegunaan 2% atau 1 penanda, dan penjelasan 7% atau 4 penanda. Konjungsi ‘perturutan’ lebih banyak digunakan sebagai penanda hubungan informasi antarkalimat dengan jumlah 22% karena informasi perturutan biasanya diwujudkan tidak dalam satu kalimat saja, namun memerlukan beberapa kalimat untuk menyatakan hubungan tersebut. Dengan demikian, diperlukan konjungsi antarkalimat untuk menghubungkan informasi-informasi tersebut sehingga mendukung topik utama. Hasil penelitian ini dijadikan sebagai panduan pengembangan perencanaan pelaksaan pembelajaran pada KD 3.6 dan 4.6 SMP kelas VII beserta pengembangan materi ajarnya dengan berdasarkan Kurikulum 2016 Revisi 2013. Saran penelitian ini adalah tindak lanjut hasil penelitian yang berupa pengembangan materi ajar. Kemudian, pengembangan materi ajar yang telah dibuat diuji coba dalam pembelajaran antara guru dan siswa untuk mengetahui efektivitasnya. The purpose of study is to describe the use of the conjunction as a relation between the meaning of the sentence in the rubric of Fun Science Republika on January– April 2017 edition. The focus of this research is the conjunction as a relation between sentence meanings in shaping the discourse unit encompasses which interrelated of calculations, sequence, resistance, more, as a result, time, conditions, manner, usefulness, and explanation. The research method used is descriptivequalitative. The results showed that the conjunction as a relation between the meaning of the sentence in the rubric of Fun Science Republika on January–April 2017 edition can maintain the integrity of the discourse, namely the cohesion and coherence. Cohesive and coherence of these sections is determined by one of the markers of the relationship, i.e., conjunctions are used as markers of relationship and connection to the meaning of the information revealed that one sentence with the other sentence. The information related to each other and support the existence of harmony to the topic on each speech. The use of the conjunction as a relation between the meaning of the sentence obtained a number of 58 markers of 58 pairs of speech. The use of the mark in relation to the meaning of the ten categories, i.e. the relation of meaning the sums obtained as much as 7% or 4 markers, perturutan 22% or 13 markers, resistance 21% or 12 marker 3% or more, 2 markers, as the result of a 9% or 5 bookmarks, time 17% or 6 markers, terms of 3% or 2 markers, 3% or 5 way marker, uses 2% or 1 bookmark, and explanation of the 7% or 4 markers. The conjunction ‘sequence’ is more widely used as a marker of relationship information between sentences with a total of 22% since the information sequence usually is manifested not only in one sentence, but it needs a few sentences to express the relationship. Thus, the necessary conjunction antarkalimat to link the information so that it supports the main topic. The results of this research as a guide to the development planning implementation study on KD 3.6 and 4.6 class VII junior high school along with the development of teaching materials based on 2016 Revision Curriculum. Suggestion of the study was a follow-up to the results of research in the form of the development of teaching material. Later, the development of teaching materials that have been tested in the study made among teachers and students to find out their effectiveness.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Additional Information: 1). Dr. Liliana Muliastuti, M.Pd. 2). Reni Nur Eriyani, M.Pd.
Subjects: Bahasa dan Kesusastraan > Bahasa Indonesia
Divisions: FBS > S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: sawung yudo
Date Deposited: 26 Apr 2022 02:04
Last Modified: 26 Apr 2022 02:04
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/28019

Actions (login required)

View Item View Item