KONSTRUKSI IDENTITAS KELOMPOK GAY (Studi kasus Kelompok Gay Arus Pelangi di Jakarta)

BUANINTA GRASIANI, . (2010) KONSTRUKSI IDENTITAS KELOMPOK GAY (Studi kasus Kelompok Gay Arus Pelangi di Jakarta). Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

[img] Text
ABSTRAK DL.pdf

Download (177kB)
[img] Text
COVER SKRIPSI BUANINTA GRASIANI.pdf

Download (260kB)
[img] Text
SKRIPSI BUANINTA GRASIANI.pdf

Download (1MB)

Abstract

Gaya hidup homoseksualitas masyarakat perkotaan belakangan ini telah menggeser heteronormativitas sebagai aturan orientasi seksual yang diakui secara mayoritas. Tatanan nilai dan norma-norma kehidupan mulai bergeser dimana masyarakat telah memiliki kecenderungan untuk menerima perkembangan dan perubahan sosial yang ada, namun sebagian masyarakat lain belum sepenuhnya untuk menerima bentuk perubahan itu khususnya pada seksualitas.Keberadaan kaum gay yang kini terlihat semakin nyata di antara kita merupakan salah satu indikasi bahwa jumlah orang-orang gay ini tidak sedikit ditarnbah dengan adanya sejarah yang menunjukkan bahwa gay di Indonesia sudah ada sejak tahuan 80-an dan seiring dengan zaman yang semakin modern mereka pun berkembang dan bertransformasi mengarah pada gerakan sosial berbasis identitas yang menginginkan adanya kesetaraan hak dan kewajiban seperti dengan kelompok sosial lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mendalami bagaimana konstruksi identitas kelompok gay Arus Pelangi ini dibentuk dalam bertransformasi sebagai gerakan sosial berbasis identitas dengan berusaha menjadi bagian dari masyarakat melalui proses kegiatan yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok sebagai cara bernegosiasi untuk diterima masyarakat melalui kebermanfaatan khususnya dalam bidang kreatif. Adanya hambatan bahwa pemahaman yang kurang serta ketertutupan dalam membicarakan seksualitas menjadi indikator pemicu persepsi yang salah terhadap keberadaan kelompok ini. Maka dari itu pada penelitian ini dapat memberi gambaran secara gamblang mengenai bagaimana kaum gay yang diwakili oleh kelompok gay Arus Pelangi berusaha untuk tampil terhadap publik dengan suatu tindakan dan kegiatan sebagai bentuk dari identitas mereka. Penelitian ini memperdalam seperti apa mereka, dan usaha apa saja yang mereka lakukan untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat dengan harapan dan tujuan untuk dapat mengubah persepsi dan mengkonstrusikan kembali pemahaman masyarakat tentang kaum gay sebagai bagian dari masyarakat yang nyatanya memang ada dan tak bisa ditolak. Adapun keinginan mereka adalah untuk sama seperti masyarakat lainnya dengan hak hidup dan beraktualisasi diri di ingkungan masyarakat tanpa harus dibeda-bedakan status sosial dan orientasi seksualnya. Pendekatan kualitatif dengan fokus kepada observasi parsipatoris dan wawancara mendalam dipilih peneliti bertujuan membangun kedekatan kepada kelompok gay Arus Pelangi, mengingat tidak mudahnya menggali data yang akurat tanpa membangun kedekatan secara personal dan emosional terlebih dahulu terhadap kelompok ini. Peneliti melihat dengan mengamati aktivitas, mengikuti kegiatan mereka, berinteraksi lebih dekat dan mengenal lebih dalam karakter satu sama lain terhadap kelompok gay di Arus Pelangi ini dengan. Hasil dari penelitian ini adalah seorang ataupun kelompok gay diterima atau ditolak di dalam masyarakat sangat ditentukan oleh bagaimana mereka membangun ii satu negosiasi dengan masyarakat untuk menjadi bagian dari lingkungan sosial itu sendiri. Sementara itu, masyarakat menerima atau menolak kehadiran kelompok gay ditentukan oleh kemampuan gay baik secara individual maupun kolektif di dalam mempresentasikan perilakunya sehari-hari. Kelompok gay Arus Pelangi sadar dengan hambatan yang dialaminya tersebut hingga mereka sadar untuk harus membuat suatu tindakan dan menyesuaikan perilakunya sehari-hari sesuai dengan yang dapat diterima masyarakat. Pada akhirnya ruang sosial itu sendiri memiliki dua fungsi yang berjalan sejajar yaitu sebagai penekan dan fasilitator. Ruang sosial menjadi penekan ketika gay merasakan adanya hambatan-hambatan sosial, sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, mereka (gay) berusaha melakukan negosiasi dengan lingkungan. Ruang sosial sebagai fasilitator berada pada bentuk masyarakat yang lebih permisif dengan dunia gay. Seperti pada kelompok gay Arus Pelangi yang berusaha membangun negosiasi dan konstuksi identitas mereka adalah dengan melakukan berbagai kegiatan dan tindakan di bidang seni, dengan harapan bahwa apa yang mereka lakukan jangan dilihat dari kegay-annya namun dari apa yang sudah dicapai.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Additional Information: 1). Prof. Dr. Muchlis R. Ludin, MA ; 2). Yuanita Aprilandini, M.Si.
Subjects: Ilmu Sosial > Sosiologi
Divisions: FIS > S1 Sosiologi
Depositing User: Users 14614 not found.
Date Deposited: 07 Sep 2022 03:13
Last Modified: 07 Sep 2022 03:13
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/34556

Actions (login required)

View Item View Item