GARUDA CAKRA DI BAWAH MATAHARI TERBIT: SEJARAH TAMAN SISWA YOGYAKARTA TAHUN 1942-1945

DANG ILHAM P. PRATAMA, . (2023) GARUDA CAKRA DI BAWAH MATAHARI TERBIT: SEJARAH TAMAN SISWA YOGYAKARTA TAHUN 1942-1945. Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

[img] Text
01 COVER.pdf

Download (1MB)
[img] Text
02 BAB I.pdf

Download (607kB)
[img] Text
03 BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (915kB) | Request a copy
[img] Text
04 BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text
05 BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (502kB) | Request a copy
[img] Text
06 BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (369kB) | Request a copy
[img] Text
07 DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (492kB)
[img] Text
08 LAMPIRAN.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy

Abstract

Skripsi ini mengkaji seputar kiprah Taman Siswa Yogyakarta selama masa pendudukan Jepang. Bertujuan untuk mengetahui tujuan pendirian Taman Siswa Yogyakarta, mengetahui kondisi serta sikap Taman Siswa Yogyakarta pada masa Pendudukan Jepang dan mengetahui pelaksanaan pendidikan di Taman Siswa Yogyakarta pada masa Pendudukan Jepang. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan tahapannya dimulai dari (1) pemilihan topik, (2) heuristik, (3) verifikasi, (4) interpretasi dan (5) historiografi. Untuk sumber primer menggunakan buku “Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan” yang merupakan kumpulan tulisan Ki Hadjar Dewantara, artikel dari Ki Sajoga berjudul “Riwayat Perjuangan Taman Siswa 1922-1952” dalam buku 30 Tahun Taman Siswa dan surat kabar sezaman seperti surat kabar Asia Raya, Pembangoen, Soeara Asia dan Sinar Baroe. Sumber sekunder didapatkan melalui wawancara dengan Ki Priyo Dwiarso selaku tokoh Taman Siswa, buku cetak, maupun jurnal yang sejalan dengan penelitian. Sumber-sumber yang didapatkan sebelumnya lalu dicek keasliannya dan dipilih sesuai dengan kebutuhan penelitian. Selanjutnya sumber tersebut ditafsirkan melalui tahap analisis (menguraikan data untuk mendapatkan fakta) dan sintesis (merangkai fakta-fakta menjadi satu). Setelah itu, fakta-fakta yang telah diperoleh disajikan dengan penulisan sejarah dalam bentuk skripsi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Taman Siswa Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 3 Juli 1922 sebagai sekolah partikelir kebangsaan untuk menandingi pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh Belanda justru memilih untuk menahan diri selama masa pendudukan Jepang. Kondisi Taman Siswa Yogyakarta mengalami fase pasang surut. Sempat mengalami peningkatan jumlah murid sehingga terpaksa membuat kelas darurat akibat kekurangan kelas pada tahun 1943 lalu terpaksa membatasi jumlah murid dan tingkatan sekolahnya akibat penerapan Osamu Seirei No. 22/2603 mengenai penertiban sekolah-sekolah partikelir. Pada tahun 1944, Taman Siswa menutup Taman Madya (SMA) dan Taman Guru (Sekolah Guru) dan mengubah Taman Dewasa (SMP) menjadi Taman Tani (Sekolah Tani) ditambah dengan Taman Rini (Sekolah Kepandaian Puteri). Sikap Taman Siswa terhadap Jepang cenderung memilih jalan tengah yaitu bersikap “ngentung”. Layaknya sebuah kepompong yang dari luar terlihat mati namun didalam terdapat kehidupan. Taman Siswa akan menjadi kupu-kupu yang bebas ketika Jepang pergi dari Indonesia. Sikap Ngentung ini digunakan dalam pelaksanaan pendidikan di Taman Siswa Yogyakarta. Meskipun Jepang berusaha mengindoktrinisasi anak-anak di kelas dengan diajarkan latihan semangat kemiliteran maupun bahasa Jepang namun jiwa kebangsaan tetap terpelihara di Taman Siswa meskipun sedang dikekang oleh Jepang. Pelajaran Taman Dewasa tetap diajarkan didalam Taman Tani maupun Taman Rini. Pelajaran Taman Madya dan Taman Guru tetap diajarkan secara diam-diam dan terbatas. Kata Kunci: Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara, Ngentung This thesis examines the work of Taman Siswa Yogyakarta during the Japanese occupation. It aims to find out the purpose of establishing Taman Siswa Yogyakarta, knowing the conditions and attitudes of Taman Siswa Yogyakarta during the Japanese Occupation and knowing the implementation of education in Taman Siswa Yogyakarta during the Japanese Occupation. The method used is the historical research method with its stages starting from (1) topic selection, (2) heuristics, (3) verification, (4) interpretation and (5) historiography. Primary sources used the book “Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan” which is a collection of Ki Hadjar Dewantara's writings, an article by Ki Sajoga entitled "Riwayat Perjuangan Taman Siswa 1922-1952" in the book 30 Tahun Taman Siswa and contemporaneous newspapers such as Asia Raya, Pembangoen, Soeara Asia and Sinar Baroe newspapers. Secondary sources were obtained through interviews with Ki Priyo Dwiarso as a Taman Siswa figure, printed books, and journals that are in line with the research. The sources obtained previously were then checked for authenticity and selected according to research needs. Furthermore, the sources were interpreted through the stages of analysis (deciphering data to obtain facts) and synthesis (stringing facts together). After that, the facts that have been obtained are presented with historical writing in the form of a thesis. The results of this study show that Taman Siswa Yogyakarta, which was established on July 3, 1922 as a national particle school to compete with the implementation of education carried out by the Dutch, chose to restrain itself during the Japanese occupation. The condition of Taman Siswa Yogyakarta experienced an up and down phase. Had experienced an increase in the number of students so that they were forced to make emergency classes due to lack of classes in 1943 and then were forced to limit the number of students and school levels due to the implementation of Osamu Seirei No. 22/2603 regarding the control of private schools. In 1944, Taman Siswa closed Taman Madya (Senior High School) and Taman Guru (Teacher's School) and changed Taman Dewasa (Junior High School) to Taman Tani (Farmer's School) coupled with Taman Rini (Girls' School). Taman Siswa's attitude towards Japan tends to choose the middle way, namely being "ngentung". Like a cocoon that looks dead from the outside but inside there is life. Taman Siswa will become a free butterfly when Japan leaves Indonesia. This Ngentung attitude is used in the implementation of education in Taman Siswa Yogyakarta. Even though the Japanese tried to indoctrinate children in the classroom by teaching military spirit training and Japanese language, the national spirit was maintained in Taman Siswa even though it was being restrained by Japan. Taman Dewasa lessons are still taught in Taman Tani and Taman Rini. Taman Madya and Taman Guru lessons are still taught secretly and limited. Keywords: Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara, Ngentung

Item Type: Thesis (Sarjana)
Additional Information: 1). Dr. Umasih, M.Hum. 2). Sri Martini, S.S. M.Hum.
Subjects: Ilmu Sejarah > Kronologis Sejarah
Divisions: FIS > S1 Pendidikan Sejarah
Depositing User: Users 16882 not found.
Date Deposited: 23 Feb 2023 08:15
Last Modified: 23 Feb 2023 08:15
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/37099

Actions (login required)

View Item View Item