PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN DALAM REPELITA IV: PERAN KURIKULUM SMKTA 1984 DALAM MENDUKUNG TUJUAN PEMBANGUNAN NASIONAL (1984-1989)

AHMAD RIZALUL HAQ, . (2026) PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN DALAM REPELITA IV: PERAN KURIKULUM SMKTA 1984 DALAM MENDUKUNG TUJUAN PEMBANGUNAN NASIONAL (1984-1989). Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

[img] Text
Cover.pdf

Download (1MB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (4MB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (4MB) | Request a copy
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (4MB) | Request a copy
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (4MB) | Request a copy
[img] Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (4MB)
[img] Text
Lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (4MB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini mengkaji perumusan, pelaksanaan, dan makna historis Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan Tingkat Atas (SMKTA) 1984 pada masa Repelita IV. Fokus penelitian meliputi pengembangan sumber daya manusia, penyiapan tenaga kerja tingkat menengah, peningkatan produktivitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pembentukan manusia pembangunan. Penelitian menggunakan metode historis melalui tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama meliputi GBHN 1983, Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 1984, dokumen Kurikulum SMKTA 1984, statistik nasional, serta wawancara dengan Siswo Wiratno dan Bagiono Djokosumbogo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum SMKTA 1984 tidak sepenuhnya memulai orientasi praktik dalam pendidikan kejuruan. Arti pentingnya terletak pada upaya memperluas dan menstandarkan pendidikan umum, dasar kejuruan, keterampilan khusus, kerja lapangan, dan bimbingan karier. Jumlah murid STM, SKKA, dan SMEA meningkat dari 905.393 orang pada 1986/1987 menjadi 1.089.536 orang pada 1988/1989. Jumlah penduduk bekerja berpendidikan SMKTA juga meningkat, meskipun jumlah pencari kerja pada kelompok yang sama turut bertambah. Di STM Pembangunan Pertanian Temanggung, dari 116 lulusan tahun 1987/1988, sebanyak 89 orang bekerja, 12 berwirausaha, 9 melanjutkan pendidikan, dan 6 belum melaporkan statusnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kurikulum SMKTA 1984 lebih berperan dalam membentuk arah kebijakan, memperluas kapasitas pendidikan, melembagakan program kejuruan, dan menghubungkan sekolah dengan dunia kerja daripada menjamin penyerapan seluruh lulusan. Pelaksanaannya dibatasi oleh ketimpangan fasilitas, keterbatasan kualitas dan pengalaman industri guru, kesenjangan antardaerah, hubungan sekolah dan industri yang tidak merata, serta kesulitan dalam penilaian keterampilan. Kata kunci: Kurikulum SMKTA 1984, Repelita IV, pendidikan kejuruan, tenaga kerja tingkat menengah, sejarah pendidikan. *****This study examines the formulation, implementation, and historical significance of the 1984 Upper Secondary Vocational School Curriculum (SMKTA) during Repelita IV. It focuses on human resource development, the preparation of middle-level skilled workers, productivity, science and technology, and the formation of development-oriented citizens. The study applies the historical method through heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Its main sources include the 1983 GBHN, Presidential Decree Number 21 of 1984, the 1984 SMKTA Curriculum, national statistics, and interviews with Siswo Wiratno and Bagiono Djokosumbogo. The findings show that the 1984 SMKTA Curriculum did not introduce vocational practice from an entirely new starting point. Its main significance lay in expanding and standardizing general education, vocational foundations, specialized skills, fieldwork, and career guidance. Student enrolment in STM, SKKA, and SMEA increased from 905,393 in 1986/1987 to 1,089,536 in 1988/1989. The number of employed persons with an SMKTA education also increased, although the number of job seekers rose at the same time. At STM Pembangunan Pertanian Temanggung, 89 of 116 graduates in 1987/1988 were employed, 12 were self-employed, nine continued their studies, and six had not reported their status. The study concludes that the curriculum played a stronger role in shaping policy, expanding educational capacity, institutionalizing vocational programs, and connecting schools with employment than in guaranteeing graduate employment. Its implementation was constrained by unequal facilities, limited teacher preparation and industrial experience, regional disparities, uneven school–industry cooperation, and difficulties in skills assessment.       Keywords: 1984 SMKTA Curriculum, Repelita IV, vocational education, middle-level workforce, history of education.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Additional Information: 1). Dr. Muhammad Fakhruddin, M.Si. ; 2). Dr. Nurzengky Ibrahim, M.M.
Subjects: Ilmu Sejarah > Aneka Ragam Sejarah dan Teori Sejarah
Pendidikan > Pendidikan Kejuruan dan Sekolah Kejuruan
Divisions: FIS > S1 Pendidikan Sejarah
Depositing User: Ahmad Rizalul Haq .
Date Deposited: 30 Jul 2026 04:49
Last Modified: 30 Jul 2026 04:49
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/67605

Actions (login required)

View Item View Item