SEKUEN DALAM CERITA BERBINGKAI SERIBU SATU MALAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

RISKA DEVITASARI, . (2008) SEKUEN DALAM CERITA BERBINGKAI SERIBU SATU MALAM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA. Sarjana thesis, Universitas Negeri Jakarta.

[img] Text
cover.pdf

Download (110kB)
[img] Text
Abstrak.pdf

Download (223kB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna sekuen pada cerita berbingkai Seribu Satu Malam. Selain itu, penelitian ini juga memberikan salah satu alternatif dalam pembelajaran apresiasi sastra di SMA. Objek penelitian adalah dua puluh tiga sekuen pada kumpulan kisah Seribu Satu Malam yang terdapat pada seratus malam pertama. Objek ini diteliti dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk analisis data dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Adapun fokus penelitian adalah lima kalimat naratif sekuen cerita berdasarkan teori Tzvetan Todorov, yang meliputi : 1) keadaan seimbang; yaitu keadaan awal yang memulai cerita 2) Tindakan pengubah keadaan seimbang; berupa gangguan oleh kekuatan tertentu atau konflik tertentu.3) Keadaan tak seimbang; akibat masalah yang terjadi keadaan yang pada mulanya seimbang atau bahagia berubah menjadi tidak seimbang. 4) Tindakan pengubah keadaan seimbang; berupa kekuatan dari arah berlawanan, untuk mengembalikan keadaan menjadi seimbang kembali. 5) Keadaan seimbang tecipta kembali ; keadaan yang mirip keadaan awal tetapi keduanya tak pernah sama. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah membaca keseluruhan objek, mengklasifikasi dan mengidentifikasi kalimat, menginterpretasi data, serta menarik kesimpulan. Sementara instrument penelitian adalah peneliti sendiri dibantu tabel analisis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa analisis sintagmatik berupa kalimat naratif dan hubungan antarsekuen. Satu sekuen mengandung empat kalimat naratif, dua puluh dua sekuen mengandung lima kalimat naratif. Kalimat naratif 1, 3, dan lima merupakan kalimat atributif yang menunjukkan keadaan tertentu, sementara kalimat 2 dan 4 merupakan kalimat verbal yang menunjukkan tindakan pelaku. Terdapat lima hubungan antarsekuen. Dalam hubungan sekuen yang pertama, terdapat empat sekuen, hubungan kedua ii mengandung empat sekuen, hubungan ketiga terdapat tujuh sekuen, hubungan empat terdapat delapan sekuen, dan hubungan kelima mengandung empat sekuen. Analisis paradigmatik melihat paradigma antar kalimat naratif. Terdapat enam keadaan pada keadaan seimbang, yaitu kebahagiaan, kesengsaraan, kerukunan, ketidakrukunan, kerahasiaan, dan kepercayaan. Perselingkuhan dalam makna sintagmatik, baik dilakukan laki-laki maupun perempuan merupakan tindakan yang tidak dapat ditolerir. Perselingkuhan yang dilakukan oleh istri kepada suami mengakibatkan kejahatan baru berupa pembunuhan. Perselingkuhan pada makna paradigmatik terjadi karena diangkat dari kebudayaan yang berkembang pada masa terjadinya kisah tersebut, yaitu Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Perselingkuhan merupakan penolakan perempuan, khususnya istri raja yang menolak adanya sistem perseliran. Iri hati dan akal bulus dalam makna sintagmatik membuat kisah Seribu Satu Malam menjadi menarik Tema ini menjadi sangat menarik karena dapat dikembangkan menjadi bernacam-macam kisah baru. Rasa iri hati dapat berkembang menjadi fitnah, hasut, dan akal bulus yang juga menari untuk diceritakan. Iri hati dalam makna paradigmatik merupakan gangguan kepribadian yang dianggap salah oleh agama. Orang yang memiliki gangguan kepribadian iri hati tidak merasakan sesuatu yang salah dalam dirinya. Tokoh yang iri hati selalu curiga dan tidak percaya orang lain dan mengalami kecenderungan yang tidak beralasan untuk menganggap perilaku orang lain sebagai merendahkan dan mengancam diri mereka. Implikasi penelitian ini bagi pembelajaran sastra di SMA yaitu guru dapat memahami sekuen, hubungan antarsekuen, dan makna sekuen pada cerita berbingkai untuk mengukur kemampuan siswa dalam menanggapi sekuen sebuah karya sastra. Jika sebelumnya siswa belum mengetahui atau tahu tetapi belum paham benar, diharapkan pemahaman guru mengenai sekuen cerita berbingkai dapat membantu siswa memperlebar wawasan siswa terhadap karya sastra. Kajian dalam penelitian ini dapat menjadi dasar bagi guru dalam menentukan bahan ajar pembelajaran sastra di SMA.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Additional Information: 1)Dra. Hj. Zulfahnur Z.F., M. Pd. 2)Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum.
Subjects: Bahasa dan Kesusastraan > Bahasa Indonesia
Bahasa dan Kesusastraan > Kesusastraan > Sastra Indonesia
Divisions: FBS > S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: PKL .
Date Deposited: 15 Oct 2026 03:30
Last Modified: 15 Oct 2026 03:30
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/74129

Actions (login required)

View Item View Item