IRSYADATUS SHOFIYAH, . (2026) ANALISIS FRAMING MEDIA ONLINE DETIK.COM DAN KOMPAS.COM PADA KONTROVERSI GUS MIFTAH DENGAN PENJUAL ES TEH (Edisi 4 Desember 2024). Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.
This is the latest version of this item.
|
Text
COVER.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
BAB 1.pdf Download (268kB) |
|
|
Text
BAB 2.pdf Restricted to Registered users only Download (477kB) |
|
|
Text
BAB 3.pdf Restricted to Registered users only Download (255kB) |
|
|
Text
BAB 4.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text
BAB 5.pdf Restricted to Registered users only Download (206kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (283kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
Abstract
Kontroversi antara Gus Miftah dan penjual es teh yang viral di media sosial pada Desember 2024 menyita perhatian publik. Peristiwa tersebut memunculkan perdebatan mengenai etika komunikasi publik figur, terutama dalam konteks bagaimana pesan keagamaan disampaikan di tengah sensitivitas sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana media online Detik.com dan Kompas.com membingkai kontroversi antara Gus Miftah dan penjual es teh yang viral di media sosial pada Desember 2024. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis framing model Robert Entman, yang mencakup empat elemen. Pertama, Define Problems (bagaimana media mendefinisikan masalah). Kedua, Diagnose Causes (menjelaskan penyebab masalah). Ketiga, Make Moral Judgement (penilaian moralnya). Dan keempat, Treatment Recommendation (Solusi yang ditawarkan). Sumber data diperoleh dari delapan berita yang dipublikasikan awal pada tanggal 4 Desember 2024, terdiri dari empat berita Detik.com dan empat berita Kompas.com yang memiliki jumlah komentar terbanyak. Pemilihan tanggal tersebut dilakukan untuk menangkap konstruksi framing awal sebelum opini publik dan media lain ikut memberitakan. Analisis melalui unit teks berita yang mencakup penekanan isu dan penonjolan aspek. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa kedua media memiliki cara pandang yang berbeda dalam membingkai peristiwa tersebut. Detik.com lebih banyak menyoroti sisi viralitas dan reaksi publik di media sosial. Pemberitaannya menekankan pada klarifikasi dan permintaan maaf dari Gus Miftah, menggambarkan kontroversi ini sebagai bentuk kesalahpahaman akibat gaya komunikasi spontan. Sikap Detik.com terlihat netral dan berusaha menampilkan kedua sisi secara seimbang tanpa penilaian moral yang tajam. Gaya pemberitaan yang cepat dan ringan mencerminkan karakter media daring yang menekankan aktualitas serta nilai harmoni sosial. Berbeda dengan itu, Kompas.com menghadirkan pemberitaan yang lebih reflektif dan mendalam. Media ini membingkai peristiwa sebagai persoalan etika komunikasi publik dan tanggung jawab moral seorang tokoh agama. Kompas.com menghadirkan pandangan tokoh keagamaan untuk memperkuat sudut pandang moral, sejalan dengan citranya sebagai media yang berorientasi pada nilai, keseimbangan, dan kedalaman analisis. Ditekankan bahwa Detik.com membingkai kontroversi Gus Miftah dengan menonjolkan harmoni sosial, pemaafan, dan penyelesaian damai. Sedangkan Kompas.com menekankan aspek moral, etika komunikasi, serta tanggung jawab sosial tokoh publik terhadap masyarakat kecil. Perbedaan framing tersebut menunjukkan bahwa kedua media tidak menampilkan keberpihakan personal, tetapi memiliki keberpihakan nilai yang berbeda. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi media dalam menjaga keseimbangan antara kecepatan informasi, tanggung jawab moral, dan nilai edukatif dalam setiap pemberitaan. ***** The controversy between Gus Miftah and an iced tea seller that went viral on social media in December 2024 attracted widespread public attention. The incident sparked debates about the ethics of public communication by religious figures, particularly regarding how religious messages are conveyed amidst social sensitivity. This study aims to examine how the online media Detik.com and Kompas.com framed the controversy between Gus Miftah and the iced tea seller that went viral on social media in December 2024. This research employs a descriptive qualitative method using Robert Entman’s framing analysis model, which consists of four elements: (1) Define Problems, how the media define the issue; (2) Diagnose Causes, identifying the causes of the problem; (3) Make Moral Judgement, the moral evaluation applied; and (4) Treatment Recommendation, the solutions or resolutions offered. The data were collected from eight news articles published on December 4, 2024 four from Detik.com and four from Kompas.com selected based on the highest number of comments. The specific publication date was chosen to capture the initial framing construction before being influenced by other media narratives and public opinion. The analysis focused on textual units highlighting issue emphasis and salience aspects within the news coverage. The findings reveal that the two media platforms presented contrasting framing perspectives. Detik.com predominantly emphasized the viral aspect and public reactions on social media. Its reports focused on Gus Miftah’s clarification and apology, portraying the controversy as a misunderstanding caused by spontaneous communication. Detik.com maintained a neutral stance, balancing both sides without strong moral judgment. The quick, light-toned coverage reflects the platform’s character as an online media outlet that prioritizes immediacy and social harmony. In contrast, Kompas.com presented a more reflective and in-depth narrative, framing the event as an issue of communication ethics and moral responsibility for public figures. The platform included perspectives from religious leaders to reinforce its moral stance, aligning with its reputation as a value-oriented media emphasizing balance and analytical depth. Overall, Detik.com framed the controversy by highlighting social harmony, forgiveness, and peaceful resolution, while Kompas.com underscored moral values, communication ethics, and the social responsibility of public figures toward marginalized communities. These differing framings demonstrate that both media do not exhibit personal bias but instead reflect distinct value orientations. The findings of this study are expected to serve as a reflection for media practitioners to maintain a balance between informational speed, moral responsibility, and educational value in news reporting.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Additional Information: | 1). Dr. Elisabeth Nugrahaeni P., M.Si.; 2). Dr. Dini Safitri, M.Si. |
| Subjects: | Karya Umum > Jurnalisme, Media Berita, Penerbitan Ilmu Sosial > Komunikasi |
| Divisions: | FIS > S1 Ilmu Komunikasi |
| Depositing User: | Users 32179 not found. |
| Date Deposited: | 26 Jan 2026 02:02 |
| Last Modified: | 26 Jan 2026 02:02 |
| URI: | http://repository.unj.ac.id/id/eprint/63643 |
Available Versions of this Item
-
ANALISIS FRAMING MEDIA ONLINE DETIK.COM DAN KOMPAS.COM
PADA KONTROVERSI GUS MIFTAH DENGAN PENJUAL ES TEH (Edisi
4 Desember 2024). (deposited UNSPECIFIED)
- ANALISIS FRAMING MEDIA ONLINE DETIK.COM DAN KOMPAS.COM PADA KONTROVERSI GUS MIFTAH DENGAN PENJUAL ES TEH (Edisi 4 Desember 2024). (deposited 26 Jan 2026 02:02) [Currently Displayed]
Actions (login required)
![]() |
View Item |
