MANTRA DEBUS: PERTUNJUKAN TRADISI DAN IDENTITAS KEISLAMAN BUDAYA BANTEN

EZIK FIRMAN SYAH, . (2026) MANTRA DEBUS: PERTUNJUKAN TRADISI DAN IDENTITAS KEISLAMAN BUDAYA BANTEN. Doktor thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

[img] Text
1. Cover_Disertasi.pdf

Download (661kB)
[img] Text
2. BAB I_Disertasi.pdf

Download (435kB)
[img] Text
3. BAB II_Disertasi.pdf
Restricted to Registered users only

Download (570kB) | Request a copy
[img] Text
4. BAB III_Disertasi.pdf
Restricted to Registered users only

Download (329kB) | Request a copy
[img] Text
5. BAB IV_Disertasi.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
[img] Text
6. BAB V_Disertasi.pdf
Restricted to Registered users only

Download (253kB) | Request a copy
[img] Text
7. DAFTAR PUSTAKA_Disertasi.pdf

Download (313kB)
[img] Text
8. LAMPIRAN_Disertasi.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Masyarakat Banten saat ini cenderung lebih memilih kesenian yang populer, seperti musik dangdut yang sering ditampilkan dalam acara pesta pernikahan, sehingga kesenian debus tidak lagi dianggap sebagai hiburan yang diminati. Selain itu, pemain debus masa kini lebih banyak melakukan ritual mistis, seperti membaca mantra dan menjalankan ritual di tempat-tempat tertentu, dibandingkan dengan praktik keagamaan seperti berdzikir, bershalawat, dan berpuasa sebelum pertunjukan. Penelitian ini bertujuan mengkaji mantra debus sebagai bagian dari tradisi pertunjukan dan representasi identitas keislaman pada budaya Banten. Metode yang digunakan adalah etnografi komunikasi dengan pengumpulan data melalui observasi, perekaman, dan wawancara langsung dengan informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra yang digunakan dalam pertunjukan debus memiliki makna sebagai untaian doa yang berfungsi melindungi para pemain dari marabahaya. Pada debus yang beraliran tarekat Qadiriyah Rifa’iyah, ritual pertunjukan masih menekankan nilai-nilai keislaman, seperti praktik tawasul melalui pembacaan shalawat dan zikir yang dilakukan di panggung atau kalang. Sebaliknya, debus beraliran Jangjawokan menunjukkan ritual yang lebih sarat dengan unsur mistik. Meskipun demikian, nilai-nilai keislaman tetap ada sebagai representasi pada mantra yang digunakan sebagai sarana perlindungan diri, baik saat pertunjukan maupun dalam ritual ziarah kasepuhan debus. Mantra debus juga berfungsi menanamkan nilai keberanian, kekuatan spiritual, dan ketahanan fisik bagi para pemain. Berkaitan dengan perspektif mantra debus dapat dipahami sebagai ekspresi simbolik dari nilai keberanian, religiusitas, dan identitas masyarakat Banten. Upaya revitalisasi mantra dapat dilakukan melalui duplikasi kitab debus, pembuatan film dokumenter sebagai media promosi seni pertunjukan debus khas Banten, serta pengembangan cinderamata bertema debus untuk mendukung industri kreatif lokal. Bantenese people today tend to prefer popular arts, such as dangdut music, which is often performed at weddings, so that debus is no longer considered a popular form of entertainment. Furthermore, today’s debus performers engage in more mystical rituals, such as reciting mantras and performing rituals in specific locations, rather than religious practices such as dhikr (remembrance of God), salawat (prayer), and fasting before performances. This study aims to examine debus mantras as part of the performance tradition and a representation of Islamic identity in Bantenese culture. The method used is communication ethnography, with data collection through observation, recording, and direct interviews with informants. The results show that the mantras used in debus performances have meaning as a series of prayers that function to protect the performers from danger. In the Debus from the Qadiriyah Rifa’iyah sect, performance rituals still emphasize Islamic values, such as the practice of tawasul (religious prayer) through reciting salawat (prayer) and dhikr (spiritual remembrance) performed on stage or in a kalang (a place). In contrast, debus from the Jangjawokan style exhibit rituals more imbued with mystical elements. Nevertheless, Islamic values remain represented in mantras used for self-protection, both during performances and in the debus elder pilgrimage rituals. Debus mantras also serve to instill values of courage, spiritual strength, and physical endurance in the performers. From a perspective, debus mantras can be understood as symbolic expressions of the Bantenese people’s values of courage, religiosity, and identity. Efforts to revitalize the mantras can be carried out through the duplication of debus books, the production of documentary films as a promotional medium for Banten’s distinctive debus performing arts, and the development of debus-themed souvenirs to support the local creative industry.

Item Type: Thesis (Doktor)
Additional Information: 1) Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. 2) Prof. Dr. Nuruddin, MA.
Subjects: Bahasa dan Kesusastraan > Linguistik
Bahasa dan Kesusastraan > Semiotik dan Semantik
Bahasa dan Kesusastraan > Kesusastraan > Sastra Indonesia
Divisions: PASCASARJANA > S3 Linguistik Terapan
Depositing User: EZIK FIRMAN SYAH .
Date Deposited: 27 Jan 2026 09:01
Last Modified: 27 Jan 2026 09:01
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/64221

Actions (login required)

View Item View Item