PERSONIFIKASI KRITIK SOSIAL DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN ORDE BARU MELALUI KARYA KARYA ROMO Y. B. MANGUNWIJAYA (1981 - 1998)

RHOU DHAENA, . (2026) PERSONIFIKASI KRITIK SOSIAL DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN ORDE BARU MELALUI KARYA KARYA ROMO Y. B. MANGUNWIJAYA (1981 - 1998). Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

[img] Text
File COVER.pdf

Download (1MB)
[img] Text
File BAB 1.pdf

Download (327kB)
[img] Text
File BAB 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (360kB) | Request a copy
[img] Text
File BAB 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (385kB) | Request a copy
[img] Text
File BAB 4.pdf

Download (261kB)
[img] Text
File Daftar Pustaka.pdf

Download (267kB)
[img] Text
File Lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (789kB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan biografi Romo Y. B. Mangunwijaya beserta karya-karyanya dan sejarah Orde Baru, serta menganalisis cara karya-karya Romo Mangun pada periode 1981–1998 mempersonifikasikan kritik sosial terhadap kebijakan pembangunan Orde Baru. Kritik sosial dalam penelitian ini dipahami sebagai penilaian atau tanggapan terhadap kepincangan, ketidakadilan, atau penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat yang disampaikan lewat media tertentu untuk mendorong perbaikan kondisi sosial; dalam karya sastra, kritik tersebut disampaikan secara tidak langsung lewat personifikasi tokoh, simbol, dan alur cerita. Penelitian dilatarbelakangi oleh masih jarangnya kajian yang menghubungkan karya sastra dengan kebijakan pembangunan Orde Baru, sebab penelitian terdahulu lebih banyak menyoroti aspek humanisme, spiritualitas, atau estetika. Karya sastra di sini diposisikan sebagai sumber sejarah alternatif yang menghadirkan suara rakyat kecil yang absen dari dokumen resmi negara, bukan sebagai pengganti dokumen sejarah. Penelitian ini menggunakan metode content analysis (analisis isi) dengan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui tahapan pengumpulan data, unitisasi, kategorisasi, interpretasi, dan keabsahan data. Sumber primer penelitian terdiri atas novel Burung-Burung Manyar (1981) dan Durga Umayi (1991), serta dokumen resmi Orde Baru berupa buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (Soeharto, 1989), Strategi Pembangunan Nasional (Ali Moertopo, 1981), Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1983–1988, Repelita IV (1984–1989), dan Pidato Kenegaraan Soeharto 16 Agustus 1984. Data yang terkumpul dipilah menjadi unit analisis yang merepresentasikan kondisi sosial-politik, dikategorikan berdasarkan pola kritik sosial dan narasi pembangunan resmi, lalu dimaknai secara komparatif dan diuji keabsahannya lewat triangulasi dengan kajian sejarah sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua novel Romo Mangun mengandung kritik sosial yang disampaikan melalui personifikasi tokoh. Dalam Burung-Burung Manyar, tokoh Setadewa merepresentasikan individu yang mengalami krisis identitas dan keterasingan akibat sistem kekuasaan yang hierarkis, elitis, dan teknokratis, sementara tokoh Larasati menghadirkan alternatif nilai kemanusiaan. Dalam Durga Umayi, tokoh Iin Sulinda merepresentasikan rakyat yang mengalami ketidakpastian identitas, ketimpangan gender, kekerasan, dan dilema yang berlangsung terus-menerus. Perbandingan menunjukkan adanya jarak yang lebar antara narasi pembangunan resmi yang menekankan keteraturan, stabilitas, dan keberhasilan dengan narasi karya sastra yang menampilkan ketimpangan, keterasingan, tekanan sosial, dan konflik yang tidak terselesaikan. Karya sastra Romo Mangun karena itu dapat dipahami sebagai ruang kritik sosial sekaligus sejarah tandingan terhadap kebijakan pembangunan Orde Baru. ***** This study aims to describe the biography of Romo Y. B. Mangunwijaya together with his literary works and the history of the New Order, and to analyse how Romo Mangun's works from 1981 to 1998 personify social criticism toward New Order development policy. Social criticism in this study is understood as an assessment of, or response to, inequities, injustices, or deviations in social life that is conveyed through a particular medium to encourage the improvement of social conditions; in literary works, such criticism is conveyed indirectly through the personification of characters, symbols, and plot. The study is motivated by the scarcity of research linking literary works to New Order development policy, since previous studies have focused more on aspects of humanism, spirituality, or aesthetics. Literary works are positioned here as an alternative historical source that voices the experiences of ordinary people absent from the state's official documents, rather than as a substitute for historical documents. This study employs the content analysis method with a descriptive qualitative approach, comprising the stages of data collection, unitisation, categorisation, interpretation, and data validity testing. The primary sources consist of the novels Burung-Burung Manyar (1981) and Durga Umayi (1991), as well as official New Order documents, namely Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (Soeharto, 1989), Strategi Pembangunan Nasional (Ali Moertopo, 1981), the Broad Outlines of State Policy (GBHN) 1983–1988, the Fourth Five-Year Development Plan/Repelita IV (1984–1989), and Soeharto's State Address of 16 August 1984. The collected data were sorted into units of analysis representing socio-political conditions, categorised according to patterns of social criticism and official development narratives, then interpreted comparatively and tested for validity through triangulation with secondary historical studies. The findings show that both of Mangunwijaya's novels contain social criticism conveyed through the personification of characters. In Burung-Burung Manyar, the character Setadewa represents an individual experiencing an identity crisis and alienation caused by a hierarchical, elitist, and technocratic power structure, while the character Larasati offers an alternative set of humane values. In Durga Umayi, the character Iin Sulinda represents the people who suffer identity uncertainty, gender inequality, violence, and continuous dilemmas. The comparison shows a wide gap between the official development narrative, which emphasises order, stability, and success, and the literary narrative, which depicts inequality, alienation, social pressure, and unresolved conflict. Mangunwijaya's literary works can therefore be understood as a space for social criticism as well as a counter-history to the development policy of the New Order.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Additional Information: 1). M. Hasmi Yanuardi, S.S., M.Hum. ; 2). Sri Martini, S.S., M.Hum.
Subjects: Sejarah Dunia > Sejarah (Umum)
Sejarah Dunia > Sejarah
Divisions: FIS > S1 Pendidikan Sejarah
Depositing User: Rhou Dhaena .
Date Deposited: 30 Jul 2026 03:36
Last Modified: 30 Jul 2026 03:36
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/67626

Actions (login required)

View Item View Item