VITTO GUSTIAWAN, . (2026) AKULTURASI ALAT MUSIK GESEK CINA PADA MUSIK GAMBANG KROMONG DI JAKARTA. Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.
|
Text
COVER.pdf Download (808kB) |
|
|
Text
BAB 1.pdf Download (97kB) |
|
|
Text
BAB 2.pdf Restricted to Registered users only Download (467kB) | Request a copy |
|
|
Text
BAB 3.pdf Restricted to Registered users only Download (106kB) | Request a copy |
|
|
Text
BAB 4.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) | Request a copy |
|
|
Text
BAB 5.pdf Restricted to Registered users only Download (184kB) | Request a copy |
|
|
Text
GLOSARIUM.pdf Download (179kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (220kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf Restricted to Registered users only Download (990kB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses akulturasi alat musik gesek Cina pada musik Gambang Kromong di Jakarta, khususnya dengan mengkaji keterkaitan historis dan organologis antara instrumen Erhu dengan Sukong, Tehyan, dan Kongahyan, serta mengungkap faktor-faktor yang melatarbelakangi dominasi Kongahyan sebagai instrumen gesek tunggal yang bertahan dalam pertunjukan Gambang Kromong masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung terhadap instrumen, wawancara mendalam dengan tiga narasumber utama yang merupakan praktisi senior Gambang Kromong, triangulasi dengan seorang pakar etnomusikologi, konfirmasi lanjutan dengan narasumber asal Taiwan, serta studi pustaka dari berbagai sumber literatur akademik dan dokumen historis. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses akulturasi instrumen gesek Gambang Kromong bersifat kontestatif dan belum memiliki konsensus tunggal di kalangan praktisi maupun akademisi. Sebagian narasumber meyakini bahwa Sukong, Tehyan, dan Kongahyan merupakan hasil pelokalan dari Erhu melalui adaptasi material dengan memanfaatkan batok kelapa sebagai resonator, sementara pakar etnomusikologi yang diwawancarai menegaskan bahwa instrumen-instrumen tersebut dibawa langsung dari Tiongkok tanpa melalui proses transformasi dari Erhu di tanah Betawi. Triangulasi lanjutan dengan narasumber dari Taiwan menambah kompleksitas temuan ini, karena nama Kongahyan tidak dikenali di negara asal instrumen tersebut, dan instrumen yang paling mirip dikenal dengan nama Yehu. Secara organologis, ditemukan perbedaan signifikan antara Erhu dan instrumen gesek lokal yang mencakup material resonator dari batok kelapa dan berenuk sebagai pengganti kayu geometris, penggunaan membran triplek tipis sebagai pengganti kulit ular, pemanfaatan senar gitar dan senar cello, serta busur berbahan bambu dan nilon sebagai pengganti bulu ekor kuda. Perbedaan-perbedaan ini mencerminkan proses penyesuaian budaya yang mendalam terhadap kondisi material lokal. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa terminologi tangga nada Gambang Kromong yang selama ini disebut sebagai Slendro Cina merupakan istilah yang bersifat etnosentris dan tidak tepat, sehingga istilah yang lebih netral dan akurat adalah nada dasar Gambang Kromong. Pada masa kini, dari keempat instrumen gesek yang pernah ada, hanya Kongahyan yang masih aktif digunakan secara konsisten dalam pertunjukan, sementara Tehyan dan Sukong hanya hadir dalam acara konservasi, dan keberadaan Gihyan tidak dapat dikonfirmasi bentuk otentiknya karena ketiadaan dokumentasi fisik maupun visual yang valid. Penelitian ini menyimpulkan bahwa akulturasi instrumen gesek Gambang Kromong merupakan fenomena budaya yang kompleks, dinamis, dan multitafsir, yang tidak dapat disederhanakan menjadi satu narasi tunggal. Peneliti merekomendasikan agar penelitian lanjutan dilakukan melalui kolaborasi dengan institusi akademik di Tiongkok dan Taiwan untuk menelusuri jalur transmisi historis instrumen tersebut secara lebih definitif, serta mendorong upaya pendokumentasian sistematis dan regenerasi pengrajin instrumen gesek Betawi sebagai langkah konkret pelestarian kesenian Gambang Kromong. ***** This study aims to analyze the acculturation process of Chinese bowed instruments in Gambang Kromong music in Jakarta, specifically by examining the historical and organological relationship between the Erhu and the local instruments Sukong, Tehyan, and Kongahyan, as well as identifying the factors behind the dominance of Kongahyan as the sole surviving bowed instrument in contemporary Gambang Kromong performances. This study employed a qualitative descriptive method, with data collected through direct observation of instruments, in-depth interviews with three senior Gambang Kromong practitioners, triangulation with an ethnomusicologist, further confirmation with an informant from Taiwan, and literature review from academic sources and historical documents. Data analysis was conducted through three stages: data reduction, data presentation, and verification and conclusion drawing. The findings reveal that the acculturation of Gambang Kromong's bowed instruments remains contested and lacks a singular consensus among practitioners and scholars. Some informants believe that Sukong, Tehyan, and Kongahyan are localized adaptations of the Erhu through material substitution using coconut shells as resonators, while the ethnomusicologist consulted asserts that these instruments were brought directly from China without undergoing transformation from the Erhu in Batavia. Further triangulation with a Taiwanese informant added complexity to the findings, as the name Kongahyan is not recognized in the instrument's country of origin, with the most similar instrument known as Yehu. Organologically, significant differences were identified between the Erhu and local bowed instruments, including the use of coconut shells and berenuk fruit as resonators instead of geometric wooden chambers, thin plywood membranes replacing python skin, guitar and cello strings instead of specialized Erhu strings, and bamboo-and-nylon bows instead of horsehair. These differences reflect a deep process of cultural adaptation to local material conditions. Additionally, this study found that the term Slendro Cina commonly used to describe Gambang Kromong's tonal system is ethnocentric and inaccurate, and that the more neutral and precise term is nada dasar Gambang Kromong or the fundamental tone of Gambang Kromong. In contemporary practice, of the four bowed instruments that once existed, only Kongahyan remains consistently used in performances, while Tehyan and Sukong appear only in conservation events, and the authentic form of Gihyan cannot be confirmed due to the absence of valid physical or visual documentation. This study concludes that the acculturation of Gambang Kromong's bowed instruments is a complex, dynamic, and multifaceted cultural phenomenon that cannot be reduced to a single narrative. Further research through collaboration with academic institutions in China and Taiwan is recommended to trace the historical transmission of these instruments more definitively, alongside systematic documentation efforts and regeneration of Betawi instrument craftsmen as concrete steps toward preserving Gambang Kromong.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Additional Information: | 1). Dr. Tuti Tarwiyah Adi Sam, M.Si. |
| Subjects: | Seni Musik > Literatur Musik |
| Divisions: | FBS > S1 Pendidikan Seni Musik |
| Depositing User: | Vitto Gustiawan . |
| Date Deposited: | 21 Aug 2026 06:31 |
| Last Modified: | 21 Aug 2026 06:31 |
| URI: | http://repository.unj.ac.id/id/eprint/72422 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
