KESESUAIAN LAHAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN BAWANG PUTIH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN MAJALENGKA, JAWA BARAT

SALMAH VIRA ARSANTI, . (2026) KESESUAIAN LAHAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN BAWANG PUTIH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN MAJALENGKA, JAWA BARAT. Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

[img] Text
Cover.pdf

Download (656kB)
[img] Text
BAB 1_SKRIPSI_SALMAH VIRA ARSANTI.pdf

Download (538kB)
[img] Text
BAB 2_SKRIPSI_SALMAH VIRA ARSANTI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (357kB) | Request a copy
[img] Text
BAB 3_SKRIPSI_SALMAH VIRA ARSANTI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (517kB) | Request a copy
[img] Text
BAB 4_SKRIPSI_SALMAH VIRA ARSANTI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (3MB) | Request a copy
[img] Text
BAB 5_SKRIPSI_SALMAH VIRA ARSANTI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (199kB) | Request a copy
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA_SALMAH VIRA ARSANTI.pdf

Download (210kB)
[img] Text
LAMPIRAN_SALMAH VIRA ARSANTI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (859kB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan dan mengidentifikasi potensi wilayah pengembangan tanaman bawang putih (Allium sativum L.) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui teknik tumpang susun (overlay) untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan berdasarkan parameter iklim yang meliputi curah hujan, suhu udara, dan bulan kering, serta parameter tanah yang meliputi kemiringan lereng dan tekstur tanah. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini bersifat sekunder yang diperoleh dari lembaga dan instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian lahan aktual untuk tanaman bawang putih di Kabupaten Majalengka didominasi oleh kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2) seluas 111.080,5 ha atau sekitar 83,4% dari total luas kabupaten dan sesuai marginal (S3) seluas 20.459,2 ha atau 15,4% dengan faktor pembatas berupa curah hujan yang sangat tinggi (>1.600 mm/tahun) dan kemiringan lereng yang dapat ditangani melalui pengelolaan adaptif dan penerapan konservasi tanah dan air. Setelah diintegrasikan dengan penggunaan lahan eksisting, didapatkan wilayah potensi pengembangan untuk tanaman bawang putih seluas 30.189,5 ha dengan Kecamatan Maja menjadi kecamatan yang memiliki luas lahan potensial terbesar yaitu 3.518 ha. Integrasi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Majalengka menghasilkan 10.663,2 ha wilayah potensi yang sesuai dengan Kawasan Budidaya Pertanian, terdiri dari 8.266,1 ha lahan kelas S2 dan 2.397,1 ha lahan kelas S3, dengan Kecamatan Maja, Bantarujeg, Malausma, Kasokandel, dan Banjaran sebagai wilayah prioritas utama. Sementara itu, wilayah yang tidak berpotensi dijadikan wilayah pengembangan untuk tanaman bawang putih mencapai luas 101.593 ha atau 76,3% dari total luas Kabupaten Majalengka. Analisis kelayakan ekonomi menunjukkan pengembangan bawang putih sangat layak dengan R/C Ratio 4,31 untuk lahan S2 dan 3,90 untuk lahan S3, menghasilkan potensi produksi 219.133 ton/tahun dengan nilai ekonomi Rp 7,4 triliun/tahun, yang dapat meningkatkan produksi nasional hingga 4,37 kali lipat dan mengurangi ketergantungan impor hingga 44%. ***** This research aims to analyze land suitability, identify potential development areas, and determine priority directions for garlic (Allium sativum L.) cultivation in Majalengka Regency, West Java, using a descriptive quantitative method with a Geographic Information System (GIS) approach through overlay techniques to determine land suitability levels based on climatic parameters including rainfall, air temperature, and dry months, as well as soil parameters including slope and soil texture. The data collection technique in this study was secondary data obtained from relevant institutions and agencies. The results showed that the actual land suitability for garlic in Majalengka Regency is dominated by moderately suitable class (S2) covering 111,080.5 ha or approximately 83.4% of the total regency area and marginally suitable (S3) covering 20,459.2 ha or 15.4%, with limiting factors such as very high rainfall (>1,600 mm/year) and slope that can be managed through adaptive management practices and soil and water conservation measures. After integration with existing land use, potential development areas for garlic reached 30,189.5 ha, with Maja District having the largest potential land area of 3,518 ha. Integration with the Spatial Planning (RTRW) of Majalengka Regency resulted in 10,663.2 ha of High Priority areas suitable for Agricultural Cultivation Zones, consisting of 8,266.1 ha of S2 class land and 2,397.1 ha of S3 class land, with Maja, Bantarujeg, Malausma, Kasokandel, and Banjaran Districts as the main priority areas. Meanwhile, areas unsuitable for garlic development reach 101,593 ha or 76.3% of the total area of Majalengka Regency. Economic feasibility analysis shows that garlic development is highly feasible with an R/C Ratio of 4.31 for S2 land and 3.90 for S3 land, generating a potential production of 219,133 tons/year with an economic value of Rp 7.4 trillion/year, which can increase national production up to 4.37 times and reduce import dependence by up to 44%.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Additional Information: 1). Ilham Badaruddin Mataburu, S.Si., M.Si.; 2). Dra. Asma Irma Setianingsih, M.Si.
Subjects: Geografi, Antropologi > Geografi
Divisions: FIS > S1 Geografi
Depositing User: Users 32133 not found.
Date Deposited: 28 Jan 2026 06:51
Last Modified: 28 Jan 2026 06:51
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/63803

Actions (login required)

View Item View Item