PEMBELAJARAN LIFE SKILL MEMASAK UNTUK KEMANDIRIAN REMAJA DI PANTI ASUHAN RUMAH PIATU MUSLIMIN JAKARTA PUSAT

HAURA MAGHFIRLI HIDAYAT PUTRI, . (2026) PEMBELAJARAN LIFE SKILL MEMASAK UNTUK KEMANDIRIAN REMAJA DI PANTI ASUHAN RUMAH PIATU MUSLIMIN JAKARTA PUSAT. Sarjana thesis, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

[img] Text
File COVER.pdf

Download (1MB)
[img] Text
File BAB 1.pdf

Download (526kB)
[img] Text
File BAB 2.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (633kB) | Request a copy
[img] Text
File BAB 3.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (564kB) | Request a copy
[img] Text
File BAB 4.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text
File BAB 5.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (360kB) | Request a copy
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (349kB)
[img] Text
File LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

PEMBELAJARAN LIFE SKILL MEMASAK UNTUK KEMANDIRIAN REMAJA DI PANTI ASUHAN RUMAH PIATU MUSLIMIN JAKARTA PUSAT HAURA MAGHFIRLI HIDAYAT PUTRI ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman remaja dalam pembelajaran life skill memasak sebagai proses penumbuhan kemandirian di Panti Asuhan Rumah Piatu Muslimin Jakarta Pusat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi deskriptif dalam paradigma naturalistik-interpretatif. Partisipan utama terdiri atas empat remaja, sedangkan partisipan pendukung meliputi pengelola panti, pengajar, dan ibu dapur. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña serta analisis fenomenologi deskriptif berbantuan NVivo 15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berlangsung melalui penjelasan resep, pembagian tugas, praktik memasak, penyajian, dan pembersihan peralatan. Faktor pendukung internal meliputi motivasi, tanggung jawab, keberanian mencoba, dan pengalaman memasak, sedangkan faktor eksternal meliputi dukungan pengajar, fasilitas dapur, kerja sama teman sebaya, dan kesempatan praktik. Faktor penghambat internal meliputi kurangnya kepercayaan diri, rasa takut gagal, keraguan mengambil peran, dan ketidakbiasaan menggunakan alat tertentu. Faktor penghambat eksternal meliputi benturan jadwal, suasana dapur yang ramai, dan dominasi remaja yang lebih aktif. Hasil pengodean menunjukkan bahwa kemandirian perilaku menjadi aspek yang paling dominan dengan 72 rujukan, diikuti kemandirian emosional sebanyak 24 rujukan dan kemandirian nilai sebanyak 22 rujukan. Pembelajaran memasak dipandang mendukung proses penumbuhan kemandirian, terutama kemandirian perilaku yang tampak melalui kemampuan mengambil peran, menunjukkan inisiatif, menyelesaikan tugas, dan bertanggung jawab. Secara fenomenologis, esensi pengalaman remaja dalam pembelajaran memasak merupakan proses bertahap dari ketergantungan menuju keberanian, keterlibatan, dan tanggung jawab melalui pengalaman langsung, pembiasaan, serta dukungan lingkungan. Kata kunci: life skill memasak, fenomenologi deskriptif, experiential learning, kemandirian remaja, pendidikan nonformal. ***** LEARNING COOKING AS A LIFE SKILL TO FOSTER ADOLESCENT AUTONOMY AT RUMAH PIATU MUSLIMIN ORPHANAGE IN CENTRAL JAKARTA HAURA MAGHFIRLI HIDAYAT PUTRI ABSTRACT This study aimed to examine adolescents’ experiences of learning cooking as a life skill to foster autonomy at Rumah Piatu Muslimin Orphanage in Central Jakarta. This qualitative study used descriptive phenomenology within a naturalistic-interpretive paradigm. The primary participants were four adolescents, while supporting participants included an orphanage administrator, a cooking instructor, and a kitchen staff member. Data from interviews, observations, and documents were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña and descriptive phenomenological analysis, supported by NVivo 15. Findings showed that learning involved recipe explanation, task allocation, hands-on cooking, food presentation, and utensil cleaning. Internal supporting factors included motivation, responsibility, willingness to try, and prior cooking experience, whereas external factors included instructor support, kitchen facilities, peer cooperation, and practice opportunities. Internal barriers included low self-confidence, fear of failure, hesitation to assume roles, and unfamiliarity with certain utensils. External barriers included scheduling conflicts, crowded kitchen conditions, and dominance by more active adolescents. Coding results showed that behavioral autonomy was the most prominent aspect, with 72 references, followed by emotional autonomy with 24 references and value autonomy with 22 references. Learning cooking as a life skill supported autonomy, particularly behavioral autonomy, as reflected in the adolescents’ ability to assume roles, take initiative, complete tasks, and act responsibly. Phenomenologically, the essence of their experiences was a gradual transition from dependence toward courage, active participation, and responsibility through direct experience, repeated practice, and environmental support. Keywords: cooking life skills, descriptive phenomenology, experiential learning, adolescent autonomy, non-formal education.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Additional Information: 1). Drs. Ahmad Tijari, M.Pd. 2). Dr. Adi Irvansyah, M.Pd.
Subjects: Pendidikan > Pendidikan Dasar
Pendidikan > Media Pembelajaran
Tata Boga
Divisions: FIP > S1 Pendidikan Masyarakat
Depositing User: Haura Maghfirli Hidayat Putri .
Date Deposited: 13 Aug 2026 08:40
Last Modified: 13 Aug 2026 08:40
URI: http://repository.unj.ac.id/id/eprint/70628

Actions (login required)

View Item View Item